Kamis, 01 Mei 2025

Publikasi Buku Dosen PAI FTIK IAIN Lhokseumawe

Sejarah Pendidikan Islam


Penulis:
1. Dr. Noer Rohmah, M.Pd.I.
2. Dr. Agus Salim Salabi, M.A.

Halaman: x, 200 hlm, Uk: 14.2x20 cm
ISBN: 978-623-89766-7-6

Diterbitkan dan ditetak pertama kali oleh Jakad Media Publishing
Cetakan: Maret 2025

Buku Sejarah Pendidikan Islam ini hadir dengan kekuatan yang menonjol, baik dari segi sistematika penulisan maupun kedalaman substansi. Penulis menyusun buku ini dalam sembilan bagian besar yang disusun secara kronologis dan tematik, mulai dari masa Nabi Muhammad SAW hingga era modern pascakemerdekaan, termasuk dinamika pendidikan di lingkungan pesantren. Struktur pembahasan yang sistematis dan menyeluruh menjadikan alur isi buku mudah diikuti oleh pembaca, baik dari kalangan akademisi maupun praktisi pendidikan.

Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada penggabungan narasi historis dan teologis yang seimbang. Fakta-fakta sejarah, tokoh-tokoh penting, serta institusi pendidikan Islam disajikan secara mendalam, disertai dengan penguatan dari ayat-ayat Al-Qur’an dan kutipan para ulama klasik. Hal ini menjadikan isi buku tidak hanya informatif secara historis, tetapi juga kaya secara spiritual dan keislaman.

Cakupan materi yang disajikan pun sangat luas, meliputi aspek sosial-politik, lembaga-lembaga pendidikan Islam, metode pembelajaran, kurikulum, serta pemikiran tokoh-tokoh pembaruan dari berbagai periode. Menariknya, penulis juga memberikan perhatian yang proporsional terhadap konteks lokal, khususnya perkembangan pendidikan Islam di Indonesia. Bahasa yang digunakan relatif jelas, akademis, dan menggunakan gaya deskriptif-analitis yang cocok untuk buku ajar atau referensi bagi mahasiswa dan dosen di bidang studi pendidikan Islam.

Upaya Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba Bagi Remaja: Memulai Konsep Pendidikan Islam



Penulis: Dr. Saiful Bahri, S.Pd.I., M.A.

Halaman: ix + 150 Hlm
Ukuran: 15,5 x 25,5 cm
ISBN : (Dalam Proses pengajuan ISBN)
Penerbit: BANDAR PUBLISHING, Lamgugob, Syiah Kuala. Banda Aceh. Provinsi Aceh.

Buku ini menjelaskan tentang Penyalahgunaan narkotika semakin parah dalam kehidupan masyarakat sekarang ini, apalagi kehidupan yang modern yang semuanya praktis dan kronis, sehingga dalam kondisi ini perlu semua kalangan harus bertindak dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba dilingkungan masyarakat terutama bagi remaja yang sangat mudah terpengaruhi. Oleh karena itu, upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba dapat dilakukan melalui konsep Ta’lim sebagai model pendidikan Islam ini sangat relevan bila diterapkan dalam pencegahan narkoba khususnya bagi remaja yang dituangkan dalam buku ini. Tahapan-tahapan pencegahan penyalahgunaan narkoba dapat diimplimetasikan oleh keluarga, masyarakat, pemerintah bahkan Badan Narkotika Nasional serta lembaga lainya.

Pembelajaran Materi Pendidikan Akhlak



Penulis: Dr. Husaini, M.Ag.
Editor: Dr. Syahrizal, M.Ag.

Penerbit: CV. Pusdikra Mitra Jaya, Medan
Cetakan Pertama : Februari 2021
ISBN : 978-623-6853-13-9

Buku ini merupakan karya ilmiah yang mengupas secara mendalam konsep dan implementasi pembelajaran pendidikan akhlak dalam konteks pendidikan Islam. Penulis menyajikan landasan teori yang kuat tentang istilah-istilah penting dalam pendidikan dan akhlak, serta metodologi penelitian yang digunakan dalam pengembangan model pembelajaran akhlak.

Materi utama buku ini membahas berbagai nilai akhlak Islami yang esensial bagi peserta didik, seperti kejujuran, tanggung jawab, kasih sayang, toleransi, kedisiplinan, keberanian, hingga menahan amarah. Setiap nilai dijelaskan dengan pendekatan teoretis dan praktis, termasuk dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadis, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dan pendidikan.

Buku ini sangat cocok digunakan oleh para pendidik, mahasiswa, dan peneliti dalam bidang Pendidikan Agama Islam, khususnya yang ingin memperdalam wawasan dan metode pengajaran nilai-nilai akhlak.

Membumikan Pendidikan Akhlak: Konsep, Strategi, dan Aplikasi



Penulis: Dr. Saiful Bahri, M.A.
Editor: Dwi Fadhila
Desainer: Widiyana

Penerbit: Mitra Cendekia Media
ISBN: 978-623-176-053-1

Cetakan Pertama: Januari 2023
Jumlah Halaman: viii + 112 hlm
Ukuran: 14,8 x 21 cm

Buku ini dirancang sebagai referensi utama bagi mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan serta seluruh mahasiswa yang mempelajari pendidikan akhlak. Penulis menyusun materi dengan pendekatan praktis dan aplikatif, disesuaikan dengan realitas kehidupan di lapangan, sehingga pembaca dapat mengimplementasikan nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Buku ini disusun secara sistematis untuk memudahkan pemahaman pembaca terhadap pendidikan akhlak secara menyeluruh. Bab pertama membahas Hakikat Akhlak, yang mencakup pengertian, ruang lingkup, dan tujuan mempelajari akhlak. Bab kedua mengulas tentang Proses Pembinaan Akhlak, termasuk metode, langkah-langkah, serta pengaruh akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, bab ketiga mengangkat tema Etika, Moral, dan Susila dengan menguraikan perbedaan, persamaan, dan hubungannya dengan konsep akhlak.

Bab keempat menjelaskan Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Lain, seperti tasawuf, tauhid, ilmu jiwa, pendidikan, dan filsafat, untuk menunjukkan keterkaitan multidisipliner dalam penguatan nilai-nilai akhlak. Bab kelima berjudul Baik dan Buruk, memaparkan definisi, penentuan, dan pandangan Islam tentang nilai-nilai tersebut. Bab keenam menyoroti pentingnya Kompetensi Guru dalam Pembelajaran Akhlak, mencakup jenis-jenis kompetensi dan urgensinya dalam proses pembelajaran. Terakhir, bab ketujuh mengkaji Akhlak Mahasiswa dalam Berorganisasi, dengan fokus pada pembentukan budaya organisasi yang berlandaskan nilai-nilai akhlak.

Pendidikan Bagi Perempuan (Suatu Analisis dalam Perspektif Islam)



Penulis: Dr. Syarifah Rahmah, M.Ag.

Penerbit: CV. Pusdikra Mitra Jaya, Medan
Cetakan Pertama: Oktober 2021
Desain Sampul: Pusdikra Team
ISBN: 978-623-6853-51-1

Buku ini memiliki nilai yang sangat indah, ditulis dengan sangat apik dan memberikan nuansa religius bagi para pembacanya. Buku ini memberi gambaran sangat jelas bagi para pembaca bahwa manusia memiliki kesempurnaan sebagai khalifah di muka bumi, Maka dimensi
saling menghargai dan mendukung antara jenis kelamin harus dilakukan. Hanya Islam yang mengajarkan rasa tileran dan saling menghargai antar jenis kelamin.

Buku ini dirasakan sangat bermanfaat bagi semua pembacanya, baik praktisi, kelompok perempuan yang konsen pada pendidikan gender, lembaga pendidikan tinggi dan masyarakat yang memiliki tingkat pemahaman tinggi tentang hak-hak perempun.

Kehadiran buku ini sangat sesuai untuk dibaca dan dipedomani, walaupun masih banyak buku senada yang telah pernah ada namun buku ini memiliki warna berbeda, dengan bahasa sederhana, mudah dicerna oleh setiap pembaca. Pembahasan nya juga tidak berbelit-belit dan memudahkan pembaca untuk memahaminya.

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Kamis, 24 April 2025

Buku: Sejarah Pendidikan Islam

Book Review

Penulis:

1. Dr. Noer Rohmah, M.Pd.I.

2. Dr. Agus Salim Salabi, M.A.

Halaman:

x, 200 hlm, Uk: 14.2x20 cm

ISBN: 978-623-89766-7-6

Diterbitkan dan ditetak pertama kali oleh Jakad Media Publishing

Cetakan: Maret 2025

Buku Sejarah Pendidikan Islam ini hadir dengan kekuatan yang menonjol, baik dari segi sistematika penulisan maupun kedalaman substansi. Penulis menyusun buku ini dalam sembilan bagian besar yang disusun secara kronologis dan tematik, mulai dari masa Nabi Muhammad SAW hingga era modern pascakemerdekaan, termasuk dinamika pendidikan di lingkungan pesantren. Struktur pembahasan yang sistematis dan menyeluruh menjadikan alur isi buku mudah diikuti oleh pembaca, baik dari kalangan akademisi maupun praktisi pendidikan.

Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada penggabungan narasi historis dan teologis yang seimbang. Fakta-fakta sejarah, tokoh-tokoh penting, serta institusi pendidikan Islam disajikan secara mendalam, disertai dengan penguatan dari ayat-ayat Al-Qur’an dan kutipan para ulama klasik. Hal ini menjadikan isi buku tidak hanya informatif secara historis, tetapi juga kaya secara spiritual dan keislaman.

Cakupan materi yang disajikan pun sangat luas, meliputi aspek sosial-politik, lembaga-lembaga pendidikan Islam, metode pembelajaran, kurikulum, serta pemikiran tokoh-tokoh pembaruan dari berbagai periode. Menariknya, penulis juga memberikan perhatian yang proporsional terhadap konteks lokal, khususnya perkembangan pendidikan Islam di Indonesia. Bahasa yang digunakan relatif jelas, akademis, dan menggunakan gaya deskriptif-analitis yang cocok untuk buku ajar atau referensi bagi mahasiswa dan dosen di bidang studi pendidikan Islam.

"Temukan Jejak Gemilang Pendidikan Islam dari Zaman Nabi hingga Era Modern dalam Satu Buku Komprehensif"

Buku Sejarah Pendidikan Islam karya Dr. Noer Rohmah, M.Pd.I. dan Dr. Agus Salim Salabi, M.A. merupakan referensi penting bagi siapa saja yang ingin memahami dinamika pendidikan Islam dari masa ke masa. Disusun secara kronologis dan tematik dalam sembilan bab utama, buku ini membawa pembaca menelusuri perjalanan pendidikan Islam—dari masa Nabi Muhammad SAW, era Khulafaur Rasyidin, kejayaan peradaban Islam, hingga perkembangan pendidikan di pesantren dan era kemerdekaan Indonesia.

Tidak hanya menyajikan data sejarah, buku ini juga menghadirkan narasi teologis yang memperkaya makna. Ayat-ayat Al-Qur’an dan kutipan dari para ulama besar disandingkan dengan catatan historis, menciptakan nuansa akademik yang bernapas spiritual. Cakupan materinya sangat luas, mencakup aspek sosial, politik, lembaga pendidikan, metode pengajaran, kurikulum, serta pemikiran tokoh-tokoh pembaharu dalam Islam, baik di dunia Islam secara global maupun dalam konteks lokal Indonesia.

Gaya penulisan yang deskriptif dan analitis membuat buku ini mudah dipahami sekaligus sarat dengan pemikiran reflektif. Sangat cocok digunakan sebagai buku ajar untuk mata kuliah Sejarah Pendidikan Islam, baik di jenjang S-1, maupun S-2. Bagi dosen dan pengampu mata kuliah terkait, buku ini menjadi sumber yang kaya untuk membangun diskusi ilmiah di kelas. Sementara bagi mahasiswa, buku ini akan menjadi teman belajar yang membuka cakrawala baru tentang akar dan arah pendidikan Islam. (Admin)

Dengan penerbitan dalam format e-book, buku ini dapat diakses/disitasi melalui platform Google Book kapan saja dan di mana saja.

🎓 Mari jadikan buku Sejarah Pendidikan Islam ini sebagai rujukan utama untuk memperkaya wacana dan memperkuat fondasi keilmuan pendidikan Islam kita!

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:
Cloud Hosting Indonesia

Jumat, 08 Maret 2024

Model Pendidikan Integratif di Ma’had Ta’limul Qur’an Utsman bin Affan, Aceh

Oleh: Alfiyyah Rojwaa, Siti Adawiyyah, Siti Audya Jhara
Mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah, IAIN Lhokseumawe

Pendahuluan
Pendidikan Islam tradisional di Aceh memiliki akar sejarah panjang sebagai pusat transmisi nilai dan ilmu keislaman (Azra, 2012). Dalam konteks ini, dayah dan pesantren bukan hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga membentuk akhlak dan spiritualitas generasi muda (Bashori, Novebri, & Salabi, 2022). Salah satunya adalah Ma’had Ta’limul Qur’an Utsman bin Affan (MATAQU), didirikan pada 2014 oleh Azhar Ibrahim, SQ, M.Pd., yang bercita-cita mencetak penghafal Al-Qur’an yang tidak hanya kuat hafalannya, tetapi juga berakhlak mulia dan memiliki wawasan keilmuan luas. Berbeda dengan sebagian lembaga tahfiz lain yang hanya fokus pada hafalan, MATAQU juga mengajarkan kitab kuning serta ilmu umum secara terstruktur.

MATAQU hadir sebagai jawaban atas tantangan modern: bagaimana mengintegrasikan tradisi tahfiz dengan ilmu-ilmu umum dan pengajaran kitab kuning dalam satu kurikulum yang seimbang (Madjid, 1997). Melalui pendekatan holistik, MATAQU menyeimbangkan penguatan iman, ilmu, dan akhlak.

Sejarah dan Perkembangan Ma’had
Bermula dari pengalaman mengelola PPTQ Aceh Utara selama satu dekade, Azhar Ibrahim kemudian mendirikan MATAQU dengan semangat “adab sebelum ilmu, iman sebelum Al-Qur’an”. Terinspirasi dari Madrasah Al-Fatih Bogor, beliau merancang lembaga ini sebagai pusat pendidikan tahfiz yang tetap membuka ruang untuk ilmu umum.

Sejak awal, MATAQU berdiri dengan fasilitas sederhana. Tahun 2016 pindah ke kawasan Arun, hingga akhirnya pada 2020 memiliki kompleks permanen seluas empat hektar di Alue Lim, Lhokseumawe. Proses ini tidak lepas dari tantangan, termasuk saat harus mengosongkan gedung akibat pandemi COVID-19. Namun, tekad pengelola dan santri menjadikan MATAQU tumbuh menjadi lembaga yang kini berakreditasi A, dengan santri yang meraih prestasi di lomba Tahfiz 30 Juz, Hafalan 100 Hadis, hingga kejuaraan Matematika dan Fisika tingkat kabupaten.

MATAQU didukung tenaga pengajar berkompeten, banyak di antaranya alumni kampus nasional dan Timur Tengah, yang tidak hanya hafiz Qur’an tetapi juga menguasai tafsir, hadis, fiqh, ushul fiqh, dan bahasa Arab.

Kurikulum Integratif: Umum, Kitab Kuning, dan Tahfiz
Kurikulum MATAQU memadukan pelajaran umum seperti Matematika, IPA, Bahasa Inggris, PPKn, dan Bahasa Indonesia dengan pendidikan agama yang kuat: Aqidah, Akhlak, Sirah Nabawiyah, Durus Minal Qur’an, dan Hadis Arba’in. Kurikulum ini sesuai dengan tradisi pendidikan Islam klasik: diawali dari kitab matan (ringkas) menuju syarah dan hasyiah (penjelasan dan komentar) untuk memperdalam pemahaman (Bruinessen, 1995; Azra, 1999). Pendekatan ini juga sejalan dengan temuan Bashori et al. (2022) yang menekankan pentingnya mengembangkan pembelajaran turats berbasis budaya pesantren agar tetap kontekstual.

Pada tingkat Aliyah, kurikulum diperluas dengan kitab-kitab klasik, seperti:
  1. Tafsir: Mukhtasar Rawai’ul Bayan
  2. Tauhid: Kifayatul ‘Awam
  3. Fiqih: Hasyiyah al-Bajuri
  4. Ulumul Hadits: Taisir Musthalah al-Hadits
  5. Ulumul Qur’an: Mukhtasar Manahil al-‘Irfan
  6. Ushul Fiqih: Mabadi Awaliyah
  7. Bahasa Arab: Kawakib Durriyah Syarh Mutammimah al-Jurumiyyah
Pola seperti ini mengikuti tradisi pendidikan Islam klasik yang menekankan transisi dari matan ringkas menuju syarah dan hasyiah (Bruinessen, 1995; Azra, 1999).

Metode Pengajaran dan Tahfiz: Halaqah, Sorogan, dan Sabaq-Sabqi-Manzil
MATAQU mempraktikkan metode halaqah, di mana santri duduk melingkar mendengarkan ustadz/ustadzah menjelaskan kitab kuning; dan sorogan, yaitu santri membaca teks langsung di hadapan guru untuk diperbaiki dan dijelaskan maknanya, termasuk gramatika Arab. Selain penguatan kognitif, metode halaqah dan sorogan di MATAQU juga menanamkan nilai kedisiplinan, kesabaran, dan penghormatan kepada guru, sebagaimana dijelaskan Salabi dan Prasetyo (2022) yang menemukan bahwa internalisasi nilai budaya lokal dalam pembelajaran di pesantren memperkuat karakter dan spiritualitas santri.

Selain itu, metode tahfiznya dikenal dengan pola sabaq-sabqi-manzil:
  1. Sabaq: hafalan baru yang disetor harian
  2. Sabqi: mengulang hafalan sebelumnya agar tetap terjaga
  3. Manzil: menggabungkan semua hafalan untuk menjaga konsistensi
Metode ini terbukti efektif dalam memperkuat hafalan dan pemahaman teks (Hefner, 2009).

Penutup
Ma’had Ta’limul Qur’an Utsman bin Affan menjadi contoh inspiratif lembaga pendidikan Islam kontemporer yang berhasil memadukan tradisi dan inovasi. Dengan kurikulum integratif, ma’had ini tidak hanya melahirkan generasi penghafal Al-Qur’an, tetapi juga santri yang unggul dalam ilmu, berakhlak, dan siap merespons tantangan zaman.

Keberhasilan tersebut menegaskan pentingnya pendidikan berbasis nilai: menanamkan akhlak, memperdalam pemahaman kitab kuning (turats), serta menguatkan daya pikir kritis dan keterampilan abad 21. Pelestarian tradisi pesantren, dipadukan dengan inovasi kurikulum dan penguatan karakter, menjadi kunci mencetak generasi muslim yang berilmu dan beradab. Dengan model pendidikan yang demikian, MATAQU tidak hanya berkontribusi bagi kemajuan santri dan masyarakat Aceh, tetapi juga menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesinambungan transmisi keilmuan Islam di Nusantara.

Dengan demikian, model pendidikan seperti MATAQU dapat menjadi inspirasi bagi lembaga lain yang ingin menggabungkan penguatan akidah, penguasaan turats, serta kesiapan menghadapi perkembangan zaman.

Daftar Pustaka
Azra, A. (1999). Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Logos Wacana Ilmu.
Bashori, B., Novebri, N., & Salabi, A. S. (2022). Budaya Pesantren: Pengembangan Pembelajaran Turats. Al Mabhats: Jurnal Penelitian Sosial Agama, 7(1), 67–83. https://doi.org/10.47766/almabhats.v7i1.911.
Bruinessen, M. V. (1995). Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia. Mizan.
Hefner, R. W. (2009). Islamic Schools, Social Movements, and Democracy in Indonesia. Making Modern Muslims: The Politics of Islamic Education in Southeast Asia, 55-105.
Madjid, N. (1997). Bilik-Bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan. Jakarta: Paramadina.
Salabi, A. S., & Prasetyo, M. A. M. (2022). The Internalization of Banjaran Cultural Character Values in Musthafawiyah Islamic Boarding School, Purbabaru. MIQOT: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman, 46(2), 257–273. http://dx.doi.org/10.30821/miqot.v46i2.900.

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Jumat, 16 Februari 2024

Transmisi Ilmu melalui Talaqqī dan Baḥṡul Masā’il Kitab Kuning di Dayah Nahdhatul 'Ulum Aceh Utara

Transmisi Ilmu melalui Talaqqī dan Baḥṡul Masā’il Kitab Kuning di Dayah Nahdhatul 'Ulum Aceh Utara

Oleh: Siddik Alfaid, Rahmad Fitrariansyah, Rizki Ananda Putra
(Mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syariah, IAIN Lhokseumawe)

Pendahuluan
Dayah sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional telah memainkan peran sentral dalam melestarikan dan mentransmisikan khazanah ilmu-ilmu keislaman di Nusantara, khususnya di Aceh. Selain menjadi pusat pendidikan agama, dayah juga berfungsi sebagai institusi sosial yang membentuk karakter, spiritualitas, dan nilai-nilai keislaman generasi muda. Menurut Takdir (2018), pesantren atau dayah adalah lembaga pendidikan berbasis asrama, dipimpin oleh kiai atau teungku, dengan masjid sebagai pusat aktivitas utamanya.

Seiring perkembangan zaman, pesantren dan dayah di Aceh bertransformasi menjadi lembaga yang tidak hanya mengajarkan kitab kuning, tetapi juga mulai merespons kebutuhan keterampilan dan ilmu-ilmu kontemporer (Azra, 2012; Bashori dkk., 2022). Meskipun demikian, inti dari transmisi keilmuan di dayah tetap menggunakan sistem klasik seperti sorogan dan bandongan, yang terbukti efektif dalam memperdalam pemahaman terhadap teks-teks turats atau literatur klasik Islam (Bruinessen, 1994).

Tulisan ini menyoroti Dayah Nahdhatul 'Ulum di Bayu, Aceh Utara, sebagai studi kasus bagaimana tradisi ilmiah tersebut dipertahankan, dikontekstualisasikan, dan sekaligus diadaptasi terhadap tantangan masa kini.

Metode Penelitian
Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui studi pustaka, observasi lapangan, dan wawancara mendalam dengan pihak dayah, seperti pengasuh, guru, dan santri. Analisis dilakukan secara deskriptif untuk memetakan kurikulum, metode pembelajaran, serta dinamika hubungan antara teungku dan santri.

Sejarah dan Perkembangan Dayah Nahdhatul 'Ulum
Dayah Nahdhatul 'Ulum berdiri pada 11 Desember 1965, didirikan oleh Tgk. Hasan bin Tgk. Abdul Mutalleb di Gampong Beunot, Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara. Sejak 1987, kepemimpinan dilanjutkan oleh Tgk. H. Muhammad Yusuf Ilyas, seorang ulama alumnus Dayah Salafi Darul ‘Ulum Tanoh Mirah yang belajar selama 16 tahun di bawah asuhan Abu Tanoh Mirah.

Di bawah kepemimpinan beliau, dayah ini tumbuh menjadi lembaga yang dinamis: memperbaiki manajemen pendidikan, memperkaya kegiatan ibadah, membina karakter santri, hingga menyediakan fasilitas pendukung seperti koperasi santri. Santri dididik untuk memiliki kedisiplinan tinggi, mempraktikkan nilai-nilai keislaman secara konsisten, dan aktif dalam kegiatan seperti khutbah malam Jumat. Visi dayah ini selaras dengan semangat Ahlussunnah wal Jama'ah, yang mengutamakan keseimbangan antara ilmu, amal, dan akhlak (Madjid, 1997).

Transmisi Ilmu dan Kurikulum Kitab Kuning
Dalam konteks pendidikan Islam tradisional di Aceh, transmisi keilmuan tidak hanya dimaknai sebagai pemindahan pengetahuan, tetapi lebih sebagai pewarisan nilai, adab, dan cara berpikir yang menghubungkan generasi santri dengan tradisi ulama masa lalu (Hefner, 2009). Proses ini dikenal luas di Aceh dengan istilah talaqqī, yaitu pembelajaran langsung di mana teungku (guru) membaca dan menjelaskan kitab kepada santri, sedangkan santri mendengar dengan khusyuk, mencatat, dan mengkajinya kembali.

Selain talaqqi, dayah di Aceh juga memiliki tradisi baḥṡul masā’il, yaitu forum diskusi ilmiah di mana santri diajak menelaah persoalan-persoalan keagamaan kontemporer dengan tetap merujuk pada kitab kuning dan pendapat ulama terdahulu. Forum ini menjadi ruang penting untuk melatih daya nalar kritis santri, sekaligus menjaga relevansi ajaran Islam dengan dinamika masyarakat. 

Menariknya, metode talaqqī dan baḥṡul masā’il ini memiliki kemiripan fungsi dengan metode sorogan dan bandongan yang populer di pesantren wilayah Jawa (Bruinessen, 1995). Perbedaannya terletak pada istilah dan konteks budaya lokal: di Aceh, suasana belajar cenderung lebih kental dengan nilai kolektivitas, serta kedekatan emosional antara santri dan teungku yang tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga pembimbing spiritual dan teladan akhlak.

Sebagaimana ditegaskan Azra (2012), transmisi ilmu di pesantren dan dayah bukan hanya soal mentransfer isi kitab, tetapi juga pewarisan “habitus keilmuan” yang mencakup akhlak, kesabaran, ketekunan, serta penghormatan terhadap guru dan tradisi.

Struktur Kurikulum dan Kitab-Kitab yang Diajarkan
Kurikulum di Dayah Nahdhatul 'Ulum disusun secara bertahap dan sistematis, menyesuaikan tingkat kemampuan santri dari kelas satu hingga kelas enam. Pola ini memadukan kitab-kitab dasar (matan) dengan kitab-kitab penjelas (syarah dan hasyiah) agar santri memahami isi teks sekaligus konteks dan argumentasi di baliknya.

Materi yang diajarkan mencakup berbagai cabang utama ilmu keislaman, di antaranya:
  1. Fikih: Mulai dari Matan al-Ghayah wa at-Taqrib, Hasyiah al-Bajuri, I’anatuth Thalibin, hingga Al-Mahalli. Kitab-kitab ini mengajarkan kaidah fiqh secara bertahap, dari ringkasan hingga penjabaran mendalam.
  2. Tauhid: Seperti Matan Sanusiyyah, Kifayatul Awam, dan Hasyiah ad-Dusuqi yang memperkuat pemahaman akidah Ahlussunnah wal Jama’ah.
  3. Tasawuf: Ta’limul Muta’allim, Daqaiqu al-Akhbar, hingga Muraqi al-‘Ubudiyyah yang membimbing santri membangun spiritualitas dan akhlak.
  4. Nahwu dan Sharaf: Al-Jurumiyyah, Mutammimah, Syarah Qathrun Nada, hingga Alfiyyah Ibnu Malik, sebagai fondasi penguasaan bahasa Arab.
  5. Tafsir dan Hadis: Tafsir al-Jalalain, Nurul Yaqin, al-Arba’in an-Nawawiyah, Syarah al-Baiquniyyah, yang membantu santri memahami sumber ajaran Islam secara mendalam.
  6. Ilmu alat dan pendukung: Seperti Mantiq (logika), Balaghah, Ma’ani, dan Badi’ untuk melatih penalaran kritis dan estetika bahasa.
Penyusunan kitab-kitab ini mengikuti tradisi pendidikan Islam klasik, sebagaimana dijelaskan Azra (2012), yakni diawali dari teks ringkas sebagai pengantar sebelum masuk ke penjelasan yang lebih detail dan mendalam. Pendekatan bertahap ini memastikan santri tidak hanya hafal isi kitab, tetapi juga paham metodologi, konteks, serta kemampuan mengkritisi dan mengamalkan ilmu.

Dengan demikian, kurikulum Dayah Nahdhatul 'Ulum bukan hanya menjadi sarana transfer pengetahuan, tetapi juga membangun kepribadian, karakter, dan spiritualitas santri agar siap terjun ke tengah masyarakat dengan landasan ilmu dan adab.

Penutup
Sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional, Dayah Nahdhatul 'Ulum tetap memegang peran penting dalam menjaga tradisi transmisi ilmu-ilmu keislaman di Aceh. Dengan pendekatan kurikulum kitab kuning, metode pengajaran khas pesantren, serta kepemimpinan yang adaptif, dayah ini bukan hanya sekadar lembaga pendidikan, tetapi juga pusat pembentukan akhlak, spiritualitas, dan kepribadian santri.

Keberhasilan dayah ini terletak pada kemampuannya memadukan antara pelestarian tradisi dengan inovasi, menjawab tantangan zaman, dan tetap menjaga jati diri sebagai lembaga yang berlandaskan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama'ah. Dengan demikian, Dayah Nahdhatul 'Ulum menjadi bagian penting dari rantai panjang transmisi keilmuan Islam di Aceh dan Nusantara.

Daftar Pustaka
Azra, A. (2012). Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta: Kencana.
Bruinessen, M. V. (1995). Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia. Mizan.
Hefner, R. W. (2009). Islamic Schools, Social Movements, and Democracy in Indonesia. Making Modern Muslims: The Politics of Islamic Education in Southeast Asia, 55-105.
Madjid, N. (1997). Bilik-Bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan. Jakarta: Paramadina.
Takdir, M. (2018). Modernisasi Kurikulum Pesantren. IRCiSoD.
Bashori, B., Novebri, N., & Salabi, A. S. (2022). Budaya Pesantren: Pengembangan Pembelajaran Turats. Al Mabhats: Jurnal Penelitian Sosial Agama, 7(1), 67–83. https://doi.org/10.47766/almabhats.v7i1.911.
 
Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Rabu, 10 November 2021

Pesantren Efektif (Model Teori Integratif Kepemimpinan-Komunikasi-Konflik Organisasi)

Deskripsi Buku

Judul Buku: 
Pesantren Efektif (Model Teori Integratif Kepemimpinan-Komunikasi-Konflik Organisasi)

Penulis: 
1. Prof. Dr. H. Mukhtar Latif, M.Pd. 
2. Dr. Risnita, M.Pd. 
3. Dr. Muhammad Anggung Manumanoso Prasetyo, M.Pd.

Halaman: 
xiv, 187 hlm, Uk: 15.5x23 cm
ISBN: 
978-623-02-0982-6
Cetakan: 
Mei 2020

Buku ini adalah penilaian kritis dari basis pengetahuan manajemen tentang efektivitas pengelolaan lembaga pendidikan. Pesantren hadir sebagai warisan kultur bangsa yang telah berkontribusi mencerdaskan kehidupan bangsa. Sayangnya, perkembangan pesantren yang masif saat ini tidak dibarengi dengan peningkatan mutu dalam hal proses pendidikan dan pengajaran. Ambiguitas peran tersebut seakan mengancam eksistensi pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam. Pesantren banyak yang muncul kemudian tenggelam menjadi bukti gagalnya pengelola lembaga. Kepemimpinan tanpa dibarengi visi misi yang jelas seakan menegaskan pesantren sebagai lembaga pendidikan kelas dua. Untuk itu, diperlukan sebuah kajian teoretis guna mengukur efektivitas pengelolaan pesantren melalui teori kepemimpinan, komunikasi, dan konflik organisasi.

Paparan dalam buku ini mencakup kajian teori manajemen dan perilaku organisasi dalam sub bahasan kepemimpinan, komunikasi, dan konflik organisasi yang secara lengkap tergambar dalam sistematika pembahasan berikut:

Bab I (pendahuluan) yang meliputi: 1. Problematika Pendidikan Pesantren, 2. Akar Masalah Pendidikan Pesantren, 3. Pengertian Pondok Pesantren, 4. Karakteristik, Fungsi, dan Tujuan Pesantren, 5. Jenjang Pendidikan dan Kurikulum Pesantren, 6. Desentralisasi Pendidikan, 7. Upaya Peningkatan Mutu Pesantren, dan 8. Kemandirian Pesantren.

Bab II (Efektivitas Organisasi Pesantren) yang meliputi: 1. Konsep Efektivitas Organisasi, 2. Efektivitas dalam Kajian Islam, 3. Pendekatan dalam Memahami Efektivitas, 4. Komponen Efektivitas Organisasi, dan 5. Model Konsep Efektivitas Organisasi.

Bab III (Kepemimpinan Transformasional) yang meliputi: 1. Kepemimpinan dalam Islam, 2. Kepemimpinan Pesantren, 3. Kompetensi Manajerial Pimpinan Pesantren, 4. Parameter Kompetensi Manajerial Pimpinan Pesantren, 5. Konsep Kepemimpinan Transformasional, dan 6. Indikator Kepemimpinan Transformasional.

Bab IV (Komunikasi Interpersonal) yang meliputi: 1. Komunikasi dalam Islam, 2. Pengertian dan Tujuan Komunikasi Interpersonal, 3. Sifat dan Jenis Komunikasi, 4. Faktor Penghambat Komunikasi, 5. Proses dan Elemen Komunikasi, 6. Komponen Komunikasi Interpersonal.

Bab V (Konflik Organisasi) yang meliputi: 1. Konflik dalam Islam, 2. Pengertian Konflik dalam Organisasi, 3. Pandangan terhadap Konflik, 4. Proses dan Pengelolaan Konflik, 5. Hubungan Konflik Organisasi dan Efektivitas Organisasi, dan 6. Indikator Konflik Organisasi. 

Bab VI (Modernisasi Pesantren dan Manajemen Berbasis Pondok Pesantren) yang meliputi: 1. Modernisasi Pesantren, 2. Lahirnya Manajemen Berbasis Pondok Pesantren (MBPP), 3. Pengertian MBPP, 4. Tujuan MBPP, 5. Karakteristik Pelaksanaan MBPP, 6. Pembaharuan Pengelolaan Pesantren melalui MBPP, dan 7. Peningkatan Kinerja SDM melalui MBPP.

Bab VII (Kinerja Pendidik) yang meliputi: 1. Konsepsi Kinerja, 2. Konsep Pendidik di Pesantren, 3. Konsepsi Kinerja Pendidik, 4. Faktor Pendorong dan Penghambat Kinerja Pendidik, 5. Indikator Kinerja Pendidik, 6. Evaluasi Kinerja Pendidik, dan 7. Efektivitas Pengawasan dalam Meningkatkan Kinerja Pendidik.

Bab VIII (Pesantren Efektif) yang meliputi: 1. Gagasan Pengembangan (a. konsep pesantren efektif melalui kepemimpinan transformasional, b. konsep pesantren efektif melalui komunikasi interpersonal, c. konsep pesantren efektif melalui konflik organisasi, d. konsep pesantren efektif melalui kepemimpinan, komunikasi, dan konflik), 2. Grand Theory sebagai Konstruk Pengembangan Pesantren Efektif melalui Kepemimpinan, Komunikasi, dan Konflik Organisasi, dan 3. Rekomendasi.

Catatan
Buku ini direkomendasikan bagi mahasiswa yang sedang mendalami bidang manajemen pendidikan. Buku ini juga sangat penting bagi pengelola pesantren/dayah dan juga bagi kepala sekolah, guru, serta pengawas yang terlibat langsung dengan pengelolaan pendidikan.

Buku Pesantren Efektif (Model Teori Integratif Kepemimpinan-Komunikasi-Konflik Organisasi) dapat diperoleh melalui: shopee.co.idtokopedia.combukalapak.com 
 
Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Ikuti Channel YouTube

Connect